Iman dan Layanan Sosial

  • 09 Februari 2016
  • 15:29:32 WIB
  • 501 Kali Dilihat
  • Share

SETIAP orang pasti tidak suka kalau jatuh martabat dan rugi. Bukan saja sekedar tidak suka, melainkan sangat-sangat tidak suka. Seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an, manusia merupakan makhluk yang paling baik, paling lengkap, paling luhur keterciptaannya dibandingkan dengan makhluk yang lain ( At-Tin [95]: 4).

Hanya manusia yang memiliki hubungan antara badan kasar dengan pikirannya, hubungan antara badan kasar dengan perasaannya, dan hubungan antara badan kasar dengan keyakinannya. Jika pikirannya (inteligensinya) berjalan normal, maka sehat badan kasarnya, jika perasaannya (emosinya) terganggu, maka terganggulah kesehatan badan kasarnya, dan jika lurus dan kuat keyakinannya (spiritualnya), maka tampak tegar penampilan hidupnya. Kebenaran hubungan-hubungan ini semuanya dapat dibuktikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah, benar kalau dikatakan bahwa manusia itu memiliki martabat yang paling baik, paling lengkap dan paling luhur kalau dibandingkan dengan makhluk lain. Seperti makhluk hewan (hayawanat), makhluk tumbuh-tumbuhan (nabatat), dan makhluk benda beku (jamadat: benda padat, cair, dan gas)

Sungguhpun demikian, Allah SwT juga mengingatkan, bahwa manusia itu pada hakikatnya merupakan makhluk yang “mudah lupa”, yang karena itu disebut dengan istilah insaan (At-Tin [95]: 4). Lupa tentang apa? Pertama, lupa terhadap hal-hal yang remeh dan memang hal-hal yang remeh tersebut tidak perlu dingat-ingat. Contoh: lupa tentang berapa kilogram beras yang telah dimakan selama ini, berapa ribu liter air yang pernah melalui kerongkongannya, berapa ribu meter kubik udara yang pernah lewat paruparunya, berapa ribu kilometer kakinya telah dipakai untuk berjalan, berapa ribu jam tidur yang telah dialaminya, dan berapa liter urine yang telah dikeluarkan selama ini. Kedua, lupa terhadap hal-hal yang penting yang kalau hal-hal tersebut dilupakan, maka seseorang lalu dinilai melenceng dari tata nilai (benar menjadi salah, baik menjadi buruk, indah menjadi jelek, manfaat menjadimudlarat/merusak). Contoh: lupa terhadap

rumus ilmu, lupa terhadap berbakti kepada orangtua, lupa terhadap kerapihan, dan lupa menjaga diri dari minum minuman keras. Ketiga, lupa terhadap hal yang mutlak penting yang kalau sampai ditinggalkan,

maka seseorang akan kehilangan pegangan hidup. Dalam hal ini adalah jika lupa terhadap Tuhan. Jika sifat “lupa” ini, khususnya lupa yang kedua dan ketiga, sampai dikerjakan dengan sengaja oleh seseorang apalagi dibiasakan maka menurut Al-Qur’an, orang semacam itu akan dijatuhkan martabatnya oleh Allah SwT ke martabat serendah-rendahnya, (At-Tin [95]: 5).

Sekalipun sebagian ulama tafsir memaknai kata-kata “asfala safilin” itu dengan pengertian “neraka”, namun dalam tulisan ini penulis lebih cenderung memaknai kata-kata tersebut sebagai kejatuhan martabat di atas. Selanjutnya, manusia juga sangat tidak suka terhadap apa yang disebut rugi. Semua manusia sangat senang kalau merasa memiliki untung. Hakikat untung di sini adalah bertambah, sedangkan hakikat rugi adalah berkurang, dalam arti berkurang dari apa yang diinginkan untuk dimiliki. Contoh: Orang merasa sangat senang kalau bertambah kekayaan ilmunya atau makin tajam analisanya, orang akan merasa sangat senang kalau bertambah tinggi pangkatnya atau kuat kekuasaannya, orang akan sangat senang kalau bertambah kekayaannya, orang akan sangat senang kalau bertambah sehat atau kebugaran tubuhnya, dan sebagainya. Tetapi, lagi-lagi manusia diingatkan Al-Qur’an, bahwa dirinya selalu diberi cobaan penyakit “lupa” di atas. Sebab, ayat Al-Qur’an yang berbicara dalam konteks masalah “rugi” ini juga memakai kata “insaan” ketika menyebut dunia manusia (Al-’Ashr [103]: 2). Jadi, kalau sampai manusia menjadi “lupa” (lupa model, kedua dan ketiga di atas), maka manusia tersebut pasti akanmengalami apa yang disebut “rugi”.

Bagaimana jalan keluarnya agar manusia tidak turun martabatnya dan sekaligus tidak rugi? Jawabannya adalah: beriman dan beramal shalih (At-Tin [95]: 6; Al-‘Ashr [103]: 3).

Dalam konteks pembicaraan ini, beriman di sini inti artinya adalah seluruh tindakan manusia diniatkan hanya untuk beribadah kepada Allah SwT (Adz-Dzariyat [51]: 56).

Ini artinya, bekerja karena niat beribadah, menghormati orang lain karena niat beribadah, menolong orang lain karena niat beribadah, berhemat juga karena berniat ibadah, dan sebagainya. Katakanlah, ketika bergerak di permukaan planet bumi ini dalam kesehariannya senantiasa dicantolkan kepada “Yang di Atas” (Allah SwT). Kalau itu dilakukan, akan aman, benar, baik, indah, dan bermanfaat dalam arti yang sebenar-benarnya.

Selanjutnya, beramal shalih di sini inti artinya adalah lebih banyak memberi daripada meminta. Jadi, lebih banyak memperhatikan “orang lain” daripada sekadar memuaskan kepentingan “diri sendiri”. Ini artinya, melayani orang lain atau layanan sosial jauh lebih menjadi perhatian daripada melayani untuk diri sendiri (layanan untuk diri pribadi). Bukti-bukti simbolik dalam peribadatan yang diajarkan agama Islam cukup banyak. Sebagai contoh, dalam ibadah shalat. Ketika memulai shalat, seorang Mukmin yang mengerjakannya senantiasa memulainya dengan menyebut “takbir”, Allahu akbar; ini adalah urusan vertical (hablun mina-’l-laah). Ketika mengakhiri shalat, seorang Mukmin menyebut ucapan “salam”, assalamu ’alaikum wa rahmatullah: ini adalah urusan horizontal (hablun mina-’n-naas). Ucapan “salam” ini pada hakikatnya adalah “memberi”, bukan ingin “diberi”. Ini artinya, bahwa anjuran “memberi” merupakan tema besar dalam keseharusan dalam hidup secara sosial ini. Atau dengan lain kata, layanan sosial tidak lepas dari sifat pokok bagi seseorang yang mengatakan “dirinya beriman”. Iman dan layanan social bagaikan dua wajah dalam sekeping koin.

Agama Islam tidak mengajari untuk cenderung ekstrem) pada salah satu sisi dari dua wajah tersebut. Pahala dan harga manusia beriman bisa terukur lewat layanan sosialnya.

Wallaahu a’lam bishshawaab.l

Dr. Muhammad. Damami, M.Ag / SUARA MUHAMMADIYAH 24 / 96 | 20 MUHARRAM - 5 SAFAR 1433 H