Salman al-Farisi: Remaja Pemberani, tapi Cerdas

  • 13 Juni 2016
  • 11:16:29 WIB
  • 567 Kali Dilihat
  • Share

Siapa sangka, berawal dari kegelisahan batin remaja Persia tentang agama asalnya (Majusi), dan menaruh hati pada Islam, ternyata malah menjadi mutiara berharga dalam sejarah peperangan umat Islam masa awal. Dialah Salman al-Farisi. Tokoh brilian dalam strategi perang. Parit yang dia usulkan menjadi strategi jitu melindungi Kota Madinah dalam perang Khandaq (atau Ahzab). Kecemerlangan dalam beberapa medan perang, setelah Rasulullah wafat, ia dikirim menjadi Gubernur di Kufah, hingga ia meninggal. Salman al-Farisi, seorang anak muda pemberani nan cerdas.
Nama lengkapnya Mabah bin Budzkhasyan bin Mousilan bin Bahbudzan bin Fairuz bin Sahrk al-Isfahani. Ia lebih dikenal dengan nama Salman al-Farisi. Ia juga biasa dipanggil Abu Abdillah dan bergelar Salman al-Khair atau Salman bin al-Islam. Ia berasal dari desa Jayy, bagian dari Kota Asbahan (Kota Isfahan), Iran atau Persia.

Ayahnya seorang pembesar di desanya dan ahli pertanian. Salman adalah anak yang paling disayangi ayahnya. Saking sayangnya, Salman kecil tidak dibolehkan keluar rumah. Dia diminta senantiasa berada di samping perapian. Ia menjalani hari-harinya sebagai penjaga api, sesembahan penganut agama Majusi, hingga ia merasa seperti seorang budak. Ketika itu ia dikenal dengan nama aslinya: Ruziyah.

Suatu ketika, di saat Salman sudah beranjak besar, ayahnya tidak bisa melihat perkebun­annya yang luas. Ayahnya meminta Salman melakukannya. Inilah kali pertama Salman keluar rumah. Dan justru inilah pengalaman yang akhirnya membawanya pada keraguan tentang agama ayah dan keluarganya. Dia menjumpai gereja yang di dalamnya sedang ada peribatan. Dia melihatnya menganggapnya unik karena berbeda dengan cara ibadah agama Majusi.
Timbullah niat mencari agama yang membawa kebenaran. Singkat cerita, pencarian ini membawanya ke banyak negeri hingga ke tanah Arab (Madinah). Dan di sanalah dia menemukan agama yang dicarinya, yaitu Islam.

Masuk Islamnya Salman bukan tanpa pengorbanan. Ia harus memerdekakan dirinya sebagai budak. Ia pun dapat ditebus atas jasa baik para sahabat Nabi yang menyumbangkan bibit pohon kurma yang dimilikinya dan tambah dengan emas yang diberikan oleh Nabi dari harta rampasan perang. Selepas itulah ia menjadi orang merdeka dan bisa ikut berperang bersama penduduk Madinah. Dan perang pertama kali yang ia ikuti adalah perang Khandaq atau perang Ahzab. Pada perang ini pula, kecemerlangan idenya mampu menyelamatkan Kota Madinah. Hampir semua perang yang terjadi setelah perang Khandaq ia ikuti. Perang Badar dan Uhud, Salman tidak ikut karena masih menjadi budak.

Salman adalah pemuda berperawakan kuat dan bertenaga besar. Sekali ayun pedang dari lengannya yang kuat akan dapat membelah batu dan memecahnya menjadi butiran kerikil. Tapi kekerasan dan kekekarannya sebanding dengan kecerdasannya. Perang Khandaq menjadi bukti pertama dari ide briliannya.

Saat itu, suasana Madinah begitu mencekam. Hari-hari terasa lamban berjalan. Telah lima tahun Rasulullah dan kaumnya tinggal di sana. Selama masa itu, telah banyak peristiwa besar terjadi. Namun, pada hari itu kaum Muslimin menghadapi peristiwa paling genting sepanjang sejarah perjuangan mereka. Mereka sedang dikepung kafir Quraisy dan Yahudi dari segala penjuru.
Para pembesar Yahudi Bani Nadhir begitu antusias membakar semangat orang-orang kafir Quraisy. Mereka mengajak menumpas kaum Muslimin. Tidak hanya itu, Bani Nadhir juga memprovokasi dan mengajak Yahudi Bani Ghathafan, Bani Fuzarah, dan Bani Murrah yang memang telah punya dendam kepada kaum Muslimin. Ditambah lagi, tiba-tiba Yahudi Bani Quraidah yang telah terikat perjanjian dengan Rasulullah dan kaum Muslimin juga mengkhianati. Keguncangan datang berlapis-lapis.

Di tengah ketegangan itu, tampil seorang tinggi jangkung dan berambut lebat. seorang yang disayangi dan amat dihormati oleh Rasulullah. Salman al-Farisi. Dari tempat ketinggian ia melayangkan pandang meninjau sekitar Madinah. Dan sebagai telah dikenalnya, didapatinya kota itu dilingkung gunung dan bukit-bukit batu yang tak ubah bagai benteng. Hanya di sana terdapat pula daerah terbuka, luas, dan terbentang panjang, hingga dengan mudah akan dapat diserbu musuh untuk memasuki benteng pertahanan.

Di negerinya, Persia, Salman telah mempunyai pengalaman luas tentang teknik dan sarana perang, begitu pun tentang siasat dan liku-likunya. Maka tampillah ia mengajukan usul kepada Rasulullah, sebuah rencana yang belum pernah dikenal oleh orang-orang Arab dalam peperangan mereka selama ini. Rencana itu berupa penggalian khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka keliling kota.

24.000 prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin Hishn menghampiri kota Madinah. Mereka hendak mengepung dan melepaskan pukulan menentukan yang akan menghabisi kaum Muslimin. Segala perbekalan dan persenjataan sudah disiapkan. Perang Khandaq sangat besar karena ini merupakan percobaan akhir dan menentukan dari pihak musuh-musuh Islam, baik dari perorangan maupun dari suku dan golongan. Semua suku yang tidak suka dengan Islam ikut terlibat.

Demikianlah, ketika Quraisy menyaksikan parit terbentang di hadapannya, mereka merasa terpukul melihat hal yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos kota. Hingga akhirnya Abu Sufyan pun menyerukan kepada anak buahnya untuk kembali pulang ke kampung mereka. Mereka sangat kecewa, putus asa, dan menderita kekalahan.

Salman selalu memberi ide-ide brilian dalam setiap peperangan, baik peperangan yang terjadi ketika Rasulullah masih hidup maupun setelah Nabi wafat. Ia pun dikenal sebagai panglima perang yang pemberani dan ksatria. Ia sangat terkenal. Bukan hanya di tanah Arab tapi juga di Persia dan Romawi.

Maka, ketika ia diangkat menjadi Gubernur Kufah, pada masa kekhalifahan dipegang oleh Umar bin Khath­thab, warga Kufah berduyun-duyun menyambutnya. Mereka memadati jalan raya menyambut kedatangannya. Mereka ingin melihat langsung sang pemberani dan brilian.
Sayangnya, semula mereka menyangka, Sang Gubernur akan diiringi oleh rombongan pasukan besar. Namun ternyata mereka salah, Salman al-Farisi datang seorang diri dan hanya menunggang seekor keledai. Dia duduk di atasnya sambil memegang tulang berdaging yang digigitnya sedikit demi sedikit

Begitulah. Salman al-Farisi, seorang pemberani tapi brilian. Perkasa tapi sederhana dan bijaksana. Bukan hanya dikenal karena keberaniannya di medan perang, tapi juga karena kecemerlangan ide-idenya. Setelah melalui perjalanan panjangnya berjuang untuk Islam, Salman al-Farisi wafat dan dimakamkan di Madain, Irak, pada tahun 36 H.

Ia adalah panutan tentang bagaimana menjadi pemuda yang pemberani. Bahwa pemberani tidak boleh diukur dari besarnya kepalan tangan, panjangnya senjata yang dibawa. Pemberani adalah seberapa cerdas isi kepala kita. Seberapa jeli, cermat, dan bijak ketika melihat situasi dan kondisi

Sumber : http://suaramuhammadiyah.com